Mudik Perdana
Mudik perdana, bukan nama orang atau Pahlawan 45, itu adalah pengalamanku tanggal 2 Oktober 2006, ya, itu merupakan pengalaman mudik yang pertama bagiku. setelah aku pindah kerja ke Bogor awal Agustus 2006, akhirnya aku mendapat cuti untuk Lebaran di rumah. sehari sebelum kami (aku dan Mas Guruh /teman seperjuangan) berangkat, kamar tempat kami melepas lelah telah rapi tertata, dari sampah-sampah yang menumpuk sampai peralatan mandi, semua sudah ditempatkan pada posisinya. dan yang lebih penting kami sudah menyiapkan tas-tas kami yang berisikan semua keperluan pribadi hingga buku-buku koleksi. aku hanya cukup membawa saru tas ransel ukuran 70 liter dan semua barangku sudah muat terbawa. tapi mas Guruh harus membawa dua tas, bukan karena banyak yang dibawa tapi karena ukuran tas yang sedang.
kini 6 jam sebelum kami berangkat pulang, agenda kami adalah mencari )tentunya dengan membeli) oleh-oleh untuk keluarga dan teman-teman di kampung dan tidak lupa oleh-oleh untuk teman paling spesial dan selalu menspesialkan aku
-
setelah semua yang harus dan wajib dibawa pulang masuk dalam tas, akhirnya tepat pukul 16.30 setelah sholat ashar, acara "pamitan" menjadi agenda selanjutnya. kami pimitan dengan BOS Xtra and Ismu tentunya. acara pamitan selesai dan angkot warna biru putih jurusan Terminak Bubulak sudah menunggu. tepat jam 16.45 kami berangkat menuju kampung halaman denagn rute : Graha Xtara (Dramaga) >> Terminal Bubulak (Rp. 2000)>>Stasiun Bogor Kota(Rp. 2.000)>>Stasiun Depok Baru(Rp.2.000)>> denagn bus Dewi Sri menuju Pekalongan (Rp. 42.000).
Batang I'm comming
sampailah kami di Terminal Pekalongan dan langsung sholat Subuh. Mas Guruh yang punya rencana untuk dijemput orang tuanya, tak dapat menghubungi ke rumah, karena bateray HP yang dibawanya habis. Mondar-mandir kami mencari "celokan listrik" di tembok-tembok gedung terminal, tapi belum beruntung juga. Akhirnya kami memberanikan diri untuk msuk ke sebuah kios untuk meminta izin menggunakan "celokan listrik". berhasil mendapatkan yang dicari, Mas Guruh langsung menghubungi Bapaknya, dan beliau akan menunggu di Wartel Telkom dekat alun-alun Batang.
Diluar terminal ternyata sudah ada angkot leter B sudah menunggu, kami langsung masuk dan duduk serta bersama-sama mengucap " Batang I'm Comming"














Komentar terakhir